Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Oktober 2015

Terus Melaju, Toyota Kuasai Penjualan Mobil Penumpang

JAKARTA–Perlambatan ekonomi nasional bukan hanya berdampak terhadap penjualan kendaraan roda empat secara keseluruhan, tetapi juga membuat persaingan di setiap segmen kendaraan menjadi lebih ketat.

Menghadapi trend itu, Toyota memperkenalkan strategi Total Ownership Benefit (TOB) bagi pelanggan Avanza dan Veloz yang menjadi andalan Toyota di segmen Low Multi Purpose Vehicle (Low MPV).



“Ini bagian dari langkah perusahaan agar pelanggan lebih merasakan kenyamanan dan keamanan dengan Avanza dan Veloz yang dimiliki,” ujar Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Rahmat Samulo disela pameran Avanza dan New Veloz diJakarta, kemarin (14/10).

Menurutnya, lewat pendekatan TOB ini, Toyota yang baru saja meluncurkan Grand New Avanza dan Grand New Veloz pada Agustus lalu telah mendapat respon positif dari pelanggan.

Data Gaikindo mencatat disegmen low MPV, Grand New Avanza dan Grabd New Veloz terus bertahan sebagai mobil terlaris dikelasnya. Tercatat, sepanjang Januari-Agustus 2015, pangsa pasar Avanza naik menjadi 44,6 persen terhadap total penjualan di segmen penumpang dibandingkan periode yang sama pada 2014 yang hanya sebesar 40,2 persen.

Bahkan di bulan Agustus lalu, Toyota Avanza berhasil membukukan penjualan 16.344 unit dengan market share 49,7 persen. “Peningkatan pangsa pasar itu mengindikasikan bahwa dengan karakteristik sebagai real MPV atau mobil keluarga sesungguhnya, Avanza dan Veloz tetap bertahan sebagai pilihan terbaik dikelasnya,” imbuh Rahmat.

Kedua produk terbaru Toyota ini ditawarkan dengan mesin berteknologi dual VVTi, engine yang sejajar dengan kendaraan segmen di atasnya, yakni engine yang digunakan oleh sedan kelas medium seperti Toyota Altis dan Toyota Camry.

Selain lebih efisien, Avanza selama ini juga menjanjikan TOB yang dia kui lebih tinggi. Dari resalevalue, harga penjualan kembali Avanza untuk pemakaian 3 tahun berkisar antara 6-15 persen di atas kendaraan sejenis.

Dengan rentang harga Rp 198 juta-Rp 212 juta, pemilik Grand New Avanza bisa mendapat keuntungan tambahan sekitar Rp 16 juta sampai Rp 37 juta dari resale value ini, dibandingkan mobil disegmen yang sama.

Rahmat optimis, kehadiran Grand New Avanza dan Grand New Veloz terbaru ini mampu membawa andalan Toyota di segmen low MPV ke posisi yang lebih tinggi di mata pelanggan. Seperti terlihat pada data penjualan tahun ini, selain mampu bertahan sebagai mobil terlaris di Indonesia, disaat pesaing mengalami penurunan market share, pangsa pasar Avanza terus bergerak ke atas. (mna/rif)

Jumat, 09 Oktober 2015

BII Finance Terbitkan Obligasi Rp 500 M

JAKARTA–Perlambatan ekonomi dalam beberapa kuartal terakhir memacu PT BII Finance Tbk untuk masuk pasar dengan menerbitkan obligasi tahap I senilai Rp 500 miliar. Perusahaan di bawah Group Maybank Malaysia tersebut optimistis bahwa pasar tetap akan menyerap obligasi yang ditawarkannya.

“Ekonomi memang sedang melesu. Dengan fokus pada pembiayaan mobil baru, kami yakin bahwa investor akan melihat itu. Kami masih optimistis bahwa obligasi yang kami terbitkan bisa terserap pasar,” ujar Presiden Direktur BII Finance Alexander kepada pers di Jakarta kemarin (8/10).



Rencananya, BII Finance menerbitkan dua seri obligasi. Masing-masing berjangka tiga tahun dengan kisaran kupon 9,65–10,35 persen. Obligasi berjangka lima tahun ditawarkan dengan kisaran kupon 10,35–11,05 persen.

Alexander menerangkan bahwa pihaknya akan mencari pendanaan di pasar modal untuk mendukung ekspansi bisnis perusahaan di sektor pembiayaan. Langkah yang ditempuh adalah menerbitkan obligasi berkelanjutan dengan total nilai Rp 5 triliun dan tahap pertama senilai Rp 500 miliar.

Menurut Alexander, setelah dikurangi biaya emisi, dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum obligasi akan digunakan untuk modal kerja kegiatan usaha pembiayaan. Obligasi yang ditawarkan memiliki jaminan sekurang-kurangnya 50 persen dari pokok obligasi.

Alexander berharap, penerbitan obligasi bisa menggaet investor domestik. Sebab, rentang kupon bunga yang ditawarkan masih masuk dalam obligasi yang diperjualbelikan di pasar modal tanah air. “Karena ini obligasi rupiah, mayoritas investor biasanya datang dari domestik. Sasaran obligasi ini seperti perusahaan asset management, bank, dana pensiun (dapen), dan insurance, ” paparnay.

BII Finance membukukan pendapatan dari pembiayaan konsumen untuk periode enam bulan berakhir pada 30 Juni 2015 sebesar Rp 406,31 miliar atau 19,48 persen dari posisi pendapatan pembiayaan konsumen pada periode yang sama 2014 sebesar Rp340,079 miliar.

Alex mengungkapkan bahwa peningkatan pendapatan pembiayaan konsumen ini sejalan dengan peningkatan frekuensi pembayaran sepanjang periode enam bulan. (mna/c1/rif)

Rabu, 16 September 2015

Kemenhub Beli 188 Kapal Senilai Rp 11,8 Triliun

JAKARTA–Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membeli 188 kapal dalam berbagai ukuran senilai Rp 11,8 triliun. Kapal-kapal yang dibeli Kemenhub itu dibangun perusahaan galangan kapal dalam negeri dengan skema pembiayaan melalui APBN pada periode 2015–2017 ( multiyear ).

Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub Bobby R. Mamahit kepada wartawan di Jakarta  kemarin (15/9) menjelaskan bahwa kapal tersebut dibeli untuk keperluan dinas. Salah satuya ditujukan untuk kesatuan penjaga laut dan pantai (KPLP), kenavigasian, serta lalu lintas angkutan laut.

Bobby menerangkan bahwa tahun ini dialokasikan anggaran Rp 3,3 triliun, sebesar Rp 4,4 triliun pada 2016, dan sebesar Rp 3,1 triliun pada 2017. “Pertengahan Oktober nanti, semua kontrak harus sudah selesai ditandatangani se- hingga mulai dapat dikerjakan pembangunannya,” katanya dengan didampingi Kapuskom Publik Kemenhub J.A. Barata.


Pembelian kapal tersebut tidak lepas dari kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar berupa wilayah perairan. Konektivitas antarpulau sangat diperlukan untuk mempercepat pembangunan dan pengembangan daerah di pulau-pulau terpencil.

Pembangunan kapal laut perintis itu dilakukan untuk mewujdukan tol laut untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. “Dengan adanya kapal angkutan kontainer berjadwal, keberadaan barang di suatu wilayah menjadi pasti. Dengan demikian, itu akan menjamin stabilitas harga barang di wilayah tersebut,’’ kata Bobby.

Bobby optimistis mampu merampungkannya dalam tiga tahun. Bahkan, pihaknya lima kali mengundang perusahaan-perusahaan galangan kapal dalam negeri. (pur/c1/rif)